Kerajaan Mataram Islam Indonesia | Letak, Pendiri, Lengkap dengan Peninggalan

KERAJAAN MATARAM ISLAM – Kerajaan Mataram Islam (Kesultanan Mataram) adalah kerajaan islam yang berada di tanah Jawa yang terbentuk dan berdiri di abad ke-17. Kerajaan ini dipegang oleh keturunan dari keluarga Ki Ageng Sela dan Ki Ageng Pemanahan, yang menyatakan sebagai keturunan dari raja Majapahit.

Cerita sejarah dari Kerajaan Mataram Islam ini dilatar belakangi oleh Kerajaan Demak. Setelah wafatnya Raja Trenggono, ketika itu Kerajaan Demak mendapati perang saudara yakni antara Pangeran Sekar Sedo Lepen (Adik dari Raja Trenggono) dengan Pangeran Prawoto (Anak dari Raja Trenggono). Singkat cerita peperangan saudara itu dimenangkan dan di raih oleh Prawoto.

Putra dari Pangeran Sedo Lepen yang bernama Arya Penangsang, ia tidak merasa terima begitu saja ketika melihat kematian sang ayah. Akhirnya Arya Penangsang langsung membunuh Pangeran Prawoto dan juga menghabisi seluruh keluarganya.

Pangeran Prawoto mempunyai seorang anak yang bernama Arya Pangiri. Ditolong oleh Joko Tingkir, yang mana Joko Tingkir itu adalah adik iparnya Raja Trenggono, singkat cerita Arya Pangiri langsung membalas atas meninggal ayahnya yang dibunuh oleh Arya Penangsang.

Sesudah itu Joko Tingkir naik jabatan lalu memasuki tahun 1552 pusat kerajaan dipindahkan ke daerah Pajang. Joko Tingkir merupakan raja atau pemimpin pertama dari Kerajaan Pajang yang mana gelar beliau adalah Sultan Adiwijaya.

Ketika pelantikan Joko Tingkir menjadi raja di resmikan oleh Sunan Giri yang kemudian ditanggapi oleh seluruh adipati yang berada di daerah sekitar Jawa. Pada masa itu Kota Demak adalah kota yang mana daerahnya masih kecil dan juga dikuasai oleh Arya Pangiri.

Kyai Gede Pemanahan adalah salah satu pendukung  Adiwijaya yang sudah dianggap sangat berjasa. Kenapa sangat berjasa? Karena persoalan ini , Kyai Gede Pemanahan diberikan hadiah yang berwujud tanah pemukiman yang berada didaerah Mataram (Kota Gede, Yogyakarta).

Kyai Gede Pemanahan juga dikatakan sebagai salah satu orang yang merintis dengan berdiri dan terbentuknya Kerajaan Mataram Islam. Kemudian beliau meninggal dunia kurang lebih pada tahun 1575, lalu kekuasannya digantikan dan dilanjutkan oleh seseorang yang bernama Sutawijaya.

Joko Tingkir wafat kurang lebih pada tahun 1582 lalu kerajaan dilanjutkan dan diteruskan oleh anaknya yang bernama Pangeran Benowo. Namun tidak lama kemudian sesudah itu Pangeran Benowo diambil alih oleh Arya Pangiri (anak dari Prawoto dari Kerajaan Demak).

Dan pada akhirnya Kerajaan Pajang dipimpin dan di kuasai oleh Arya Pangiri, namun dengan kepemimpinannya tidak disukai oleh rakyat-rakyatnya sehingga ketika itu terjadi banyaknya perlawanan-perlawanan, salah satu peperangannya adalah peperangan yang dipimpin oleh Pangeran Bewono yang ditolong oleh Sutawijaya.

Peperangan yang dilaksanakan oleh Pangeran Bewono ini berhasil karena adanya sebuah bantuan dari Sutawijaya, lalu Sutawijaya dilantik menjadi raja, setelah itu beliau langusng memindahkan pusat Kerajaannya ke Mataram. Nah disitu Sutawijaya menjadi orang pertama yang menguasai Kerajaan Mataram Islam.

Silsilah Kerajaan Mataram Islam

kerajaan mataram islam
sijai.com

Raja pertama yang menguasai Kerajaan Mataram Islam ialah Sutawijaya, yang mana beliau memimpin Kerajaan Mataram Islam dari tahun 1586 sampai tahun 1601. Sutawijaya adalah sebagai anak pemanahan dan juga anak angkat dari Sultan Hadiwijaya.

Selaku sultan di Mataram, beliau memeliki gelar sebagai Penembahan Senopati ing Alaga Sayidim Panatagama. Awalnya pusat dari Kerajaan Islam berada di Kota Gede, saat ini tepat berada di sebelah tenggara Kota Yogyakarta.

Ketika berada di zaman kepemimpinan Penembangan Senopati, Kerajaan Mataram Islam ini sukses atau berhasil untuk membuat tunduk seluruh bupati yang memberontak dan berupaya untuk melepaskan dirinya dari Kerajaan Mtaram Islam.

Bupati-bupati yang membangkan diantaranya adalah:

  • Bupati Ponorogo
  • Bupati Kediri
  • Bupati Surabaya
  • Bupati Madiun
  • Bupati Pasuruan
  • Bupati Demak.

Bupati Demak berhasil ditundukkan pada tahun 1595.

Penembangan Senopati meninggal dunia kurang lebih pada tahun 1601 lalu di semayamkan di Kota Gede.

Sesudah meninggalnya Penembangan Senopati, anaknya yang bernama Mas Jolang ini diangkat menjadi seorang raja di Kerajaan Mataram Islam yang memiliki gelar Sultan Anyakrawati pada tahun 1601 sampai tahun 1613. Ketika itu, Mas Jolang ini berusaha sekuat mungkin untuk menghadapi pemberontakan-pemberontakan para bupait.

Namun, sebelum bisa membasmi dan menyelesaikan pemberontakan-pemberontakan yang dibuat oleh para bupati, belia meninggal dunia terlebih dahulu pada tahun 1613 di Krapyak. Karena beliau wafatnya di Krapyakm maka Mas Jolang ini sangat dikenal sebagai sebutan Penembangan Seda Krapyak.

Mas Rangsang adalah anak dari Penembangan Seda Krapyak diputus untuk menggantikan kedudukan ayahnya, putra dari Penembangan Seda Krapyak lebih dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Sultan Agung. Beliau memimpin Kerajaan Mataram Islam kurang lebih pada tahun 1613 sampai dengan tahun 1645. Awalnya kerajaan Sultan Agung berada di Kerta, kemudia pindah ke Plered.

Sesudah menjadi pemimpin di Kerajaan Mataram Islam, Sultan Agung juga harus berhadapan langsung dengan musuh-musuh lama Mataram untuk menghadi dan menghadang pemberontakan terhadap Kerajaan Islam Mataram.

Musuh-musuh dari Kerajaan Mataram Islam yang harus dihadapi diantaranya adalah Surabaya, Kediri, Pasuruan, Madiun dan Tuban. Ketika peperangan itu terjadi, Surabaya susah sekali untuk dikalahkan dikarenakan mereka dibantu oleh pasukan Kediri, Pasuruan, Madiun dan Tuban.

Ketika itu pada tahun 1615, seluruh pasukan gabungan dari Surabaya berhasil digebrak mundur dan juga dikalahkan di daerah Majakerta (Wibasa). Sesudah Majakerta (Wirabasa) dikuasai oleh Sultan Agung, kemudian disusul dengan Lasem, Pasuruan pada tahun 1617, dan Tuban pada tahun 1620.

Ketika memasuki tahun 1622 akhirnya Sultan Agung membuat tunduk Sukadana yang mana Sukadana itu menjadi salah satu Sekutu Surabaya pada tahun 1624, serangan-serangan dari Kerajaan Mataram Islam berhasil membuat tunduk Madura.

Setelah selesai menundukkan beberapa kerajaan-kerajaan yang ada berada di daerah Jawa Timur tak lama kemudian Sultan Agung yang merupakan Raja dari Kerajaan Mataram Islam wafat kurang lebih pada tahun 1645 dan beliau di semayamkan di Bukit Imogiri.

Setelah wafatnya Sultan Agung Kerajaan Mataram Islam ini dipipin oleh anaknya sendiri yang mana anak dari Sultan Agung ini memeliki gelar sebagai Amangkurat I. Namun sayanganya, Amangkurat I kurang begitu disenangi oleh rakyatnya dan juga para ulam.

Kenapa demikian? Dikarenakan raja ini kurang mencontohkan sifat-sifat dan juga sikap yang baik kepada seluruh rakyatnya. Karena persoalan ini, maka bupati pesisir mengundurkan diri dan mendorong Amangkurat I untuk bergabung dengan VOC.

Kehidupan Politik Kerajaan Mataram Islam

kerajaan mataram islam
flickr

Pada akhirnya persatuan dengan VOC menimbulkan berbagai macam reaksi dan juga perlawanan-perlawanan kepada Amangkurat I. VOC berupaya untuk mengadu dombakan dengan menggunakan cara memberinya bantuan kekuatan kepada Amangkurat I.

Di masa kepemimpinan Aamngkurat I terjadinya perlawanan Trunojoyo dari Madura. Perlawanan ini mendapatkan pertolongan dari orang-orang Bugis atau Makassar. Dan pada akhirnya Trunojoyo berhasil untuk menduduki/menguasai keraton dan membuat Amangkurat I melarikan diri untuk meminta bantuan kepada VOC.

Akan tetapi ketika Amangkurat I sedang diperjalanan untuk meminta pertolongan kepada VOC dan belum menggapai persetujuannya, AMangkurat I wafat di daerah Tegalwangi. Sunan Amangkurat I adalah satu-satunya raja atau pemimpin dari Kerajaan Mataram Islam yang disemayamkan jauh dari lingkungan kerajaannya.

Setelah meninggalnya Amangkurat I, Amangkurat II ketika itu pada tahun 1677 sampai tahun 1703 menggantikan kedudukan Amangkurat I di Kerajaan Mataram Islam. Amangkurat II adalah seorang putra dari Amangkurat I. Ketika berada di masa kepemimpinannya terjadilah persetujuan dari pihak VOC.

Yaitu persutujuan yang telah dibuat oleh VOC ialah bersedia membantu raja untuk melawan seluruh musuh dari Kerajaan Mataram Islam, namun dengan sebuah syarat yakni sang raja harus mengganti seluruh kerugian biaya di medan perang serta memberikan sebuah konsekuensi untuk VOC.

Dengan adanya persetujuan tersebut, Amangkurat II meminta bantuan kepada VOC untuk merebut kembali wilayah-wilayah yang sebelumnya sudah melepaskan diri dari wilayah Kerajaan Mataram Islam. Adanya kesempatan ini pun dipakai oleh VOC untuk mengambil alih wilayah timur Karawang hingga Sungai Pamanukan.

Ketika itu terjadinya pemindahan kerajaan atau singgasana dari Pleret ke Ketasura.

Selama VOC ikut campur dalam hal ini mengakibatkan keadaan semakin memburuk. Saudara Amangkurat I, yakni P. Puger di Pleret juga melakukan peperangan juga dikarenakan tidak mengakui jabatan Amangkurat II di Kertasura.

Dengan adanya pertolongan dari Belanda, akhirnya P. Puger pun berhasil dikalahkan serta menetap tinggal di Kartasura. Di sisi lain, ada juga perlawanan-perlawanan yang diketuai oleh Untung Surapati, peperangan tersebut mengakibatkan salah satu anggota VOC terbunuh, yakni Kapten Tack namanya.

Kondisi dari Kerajaan Mataram Islam sendiri semakin tidak menentu seperti apa kekacauannya, dan ketika telah mencapai puncaknya yang berada pada perjanjian Giyanti. Dalam perjanjian Giyanti tersebut menyebabkan daerah Mataram harus tebagi menjadi dua bagian.

Bagian-bagian tersebut ialah Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta ketika itu pada tahun 1755. Perjanjian Giyanti sendiri adalah wujud politik dari VOC untuk mengadu domba dengan menggunakan kesempatan dari perselisihan Pangeran Mangkubumi dengan Pangeran Pakubuwono III.

Sesudah itu, VOC secara terus menerus berusaha untuk memecahkan kekuasaan-kekuasaan Mataram melewati Perjanjian Salatiga pada tahun 1757 yang membagi Kesunanan Surakarta dengan Puro Mangkunegara.

Ketika itu memasuki tahun 1813, Kesultanan Yogyakarta dibagi juga menjadi dua bagian dengan Puro Paku Alam. Terus, sampai tahun 1813, wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram Islam terbagi menjadi 4 bagian wilayah, diantaranya adalah:

  • Puro Mangkunegara
  • Puro Paku Alaman
  • Kesunanan Surakarta
  • Kesultanan Yogyakarta

Letak Lokasi Kerajaan Mataram Islam

kerajaan mataram islam
joglowisata.com

Gunung Merapi merupakan salah satu pusat dari Kesuburan Kerajaan Mataram Islam. Selain dari Gunung Merapi, disekitar area tersebut juga terdapat gunung berapi lainnya, yaitu Gunung Merbabu (yang saat ini Gunung Merbabu tersebut sudah tidak aktif lagi), Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, yang mana gunung-gunung tersebut sangat mendukung sekali dengan adanya perkembangan ekonomi dari Kerajaan Mataram Islam.

Dampak-dampak yang diberikan oleh alam tersebut ialah berkembangnya perekonomian dan juga pertanian-pertanian yang maju, yang mana wilayah-wilayah ladang dan persawahan yang luas di Kerajaan Mataram Islam menghasilkan beras. Komuditas-komuditas lainnya ialah kayu, gula, kelapa, kapas dan hasil palawija.

Kerajaan Mataram Islam yang dijuluki sebagai negara agraris memiliki ekonomi yang sangat menonjol. Kerajaan Mataram Islam menghamparkan wilayah-wilayah persawahan yang luas terutama yang letaknya di daerah Jawa Tengah.

Didalam bagian perdagangan, beras adalah komoditi pertama, malahan beras itu menjadi barang ekspor. Bahkan ketika itu Kerajaan Mataram Islam juga mengekspor beras paling banyak.

Kehidupan Ekonomi Kerajaan Mataram Islam

kerajaan mataram islam
kratonpedia.com

Untuk memperkuat kehidupan ekonominya, Kerajaan Mataram Islam memiliki ambisi untuk merajai daerah tepi pantai Utara Pulau Jawa sebagai salah satu penopang ekonomi dan juga politik Pulau Jawa. Pada akhirnya persoalan itu dibuktikan dengan melakukan penyerangan ke Gresik pada tahun 1623 dan juga serangan ke Surabaya pada tahun 1625. Di masa itu, Praktis Mataram adalah kerajaan utama di jawa.

Selain selaku pintu ekspor dan impor pelabuhan pun adalah salah satu cara penghasil devisa, dikarenakan pelabuhan itu menjadi sebuah tempat transaksi perdagangan dari perdagangan Indonesia dari Indonesia bagian Timur.

Dari aktivitas itulah Kerajaan Mataram Islam bisa mendapatkan cukai. Ketika itu masih berada di zaman VOC, Belanda pernah mendapati pembebasan cukai oleh Sultan Agung kurang lebih pada tahun 1614 (sebelum kerajaan mataram islam menyerang VOC).

Lantas seperti apa ekonomi pelayaran dari Kerajaan Mataram Islam? Nelayan adalah salah satu pekerjaan kecil dari rakyat mataram, dan terutama untuk masyarakat di daerah Laut Jawa. Laut Selatan atau Samudera Indonesia yang letaknya di pesisir selatan Kerajaan Mataram Islam agak kurang mendukung untuk berkembangnya perdagangan dan pelayaran di zaman tersebut.

Persoalan ini diakibatkan dari keadaan alam Samudera Indonesia yang tidak gampang untuk dilayari dikarenakan ombak lautnya yang sangat besar, jadi sangat besar sekali resikonya apabila Samudera Indonesia itu tetap dipaksakan untuk digunakan berlayar.

Akan tetapi adanya persoalan seperti itu bukan berarti pelayaran tidak berkembang di wilayah tepi pantai Selatan Mataram. Sampai saat ini, di pesisir pantai selatan masih dapat dijumpai perahu-perahu tradisional yang ada di beberapa pantai Selatan Yogyakarta, misalkan seperti Sadeng dan Samas.

Sangat berbeda sekali dengan perkembangan pelabuhan di daerah utara Pulau Jawa, daerah Selatan Mataram memang tidak berkembang menjadi pelabuhan penting.

Perkembangan Kerajaan Mataram Islam

kerajaan mataram islam
seruni.id

Di abad ke-17, Kota Jepara menjadi salah satu bandar yang sangat penting dalam bidang kegiatan ekspor beras. Bukan hanya Jepara saja, ada juga bandar-bandar lainnya, diantaranya ialah: Tegal, Pekalongan, Tuban dan Gresik. Sedangkan untuk membawa barang-barang yang akan di perdagangkan dari pedelaman ke pelabuhan, yakni dengan menggunakan gerobak yang ditarik-tarik oleh kerbau.

Apabila jaraknya tidak terlalu jauh dan dekat biasanya hanya menggunakan pikulan saja yang cara penggunannya cukup dengan digendong atau melewati saluran air.

Sebelum memasuki abad ke-16 Masehi, ekonomi Kerajaan Mataram Islam masih didominasi dengan ekonomi pertanian. Jarang sekali yang menemukan berita-berita atau informasi-informasi tentang perdagangan Mataram dengan negara-negara tetangga.

Baru ketika sesudah memasuki abad ke-16, sesudah wilayah pesisir benar-benar dikuasai oleh kerajaan mataram islam, aktivitas-aktivitas Kerajaan Mataram Islam pun semakin terlihat dan menonjol.

Daerah pesisir utara juga dibagi menjadi dua bagian, yaitu terdiri dari bagian tlatah pesisiran kulon dan tlatah pesisir bagian wetan. Ketika berada di zaman kepemimpinan Sultan Agung dan Amangkurat I, Kota Jepara adalah kota yang menjadi pusat pesisiran wetan yang memiliki pejabat wedana bupati.

Kehidupan Sosial Budaya Kerajaan Mataram Islam

kerajaan mataram islam
ilmudasar.com

Ciri-ciri dari rakyat agraris ialah terlihat dari betapa pentingnya nilai-nilai tanah untuk kehidupan mereka. Demikian juga persoalan dengan Kerajaan Mataram Islam. Ada sebagian dari rakyatnya masih sangat tergantung kepada keadaan alam tanah dan juga luas dari tanah yang dimiliki.

Betapa pentingnya arti dari kekuasaan tanah, oleh karena itu salah satu simbol dari kerajaan ialah tanah.

Persoalan inilah yang memberikan ciri bahwa Kerajaan Mataram Islam ialah kerajaan yang memiliki sifat feodal. Sifat feodal itu pun nampak terlihat di gelar sultan sebagai panatagama, yakni pengola atau pengatur kehidupan dan keagamaan.

Maka dari itu, sultan mempunyai singgasana yang sangat amat tinggi. Seluruh masyarakat akan sangat menghormatinya dan juga patuh, serta mereka semua bersedia hidup dan mati untuk mengabdikan dirinya kepada sultan.

Di daerah Mataram ada beberapa golongan masyarakat yang sangat dikenal. Golongan masyarakat tersebut dibedakan menjadi golongan raja dan juga keturunannya. Golongan bangsawan dan rakyat selaku kawula di kerajaan.

Ketika itu menurut hukum dan juga ketentuan tradisional yang menjadi tanah kerajaan dan seluruh isinya ialah raja. Ketika melaksanakan atau menjalankan kepemimpinan, raja dibantu oleh seluruh keluarga dan seluruh pegawai istana. Mereka semua diberi gaji berupa yang berwujud tanah lungguh, yaitu tanah yang memiliki hasil bumi dan juga dapat diambil oleh seorang yang memiliki tanahnya.

Raja serta para pejabat dan juga pemegang tanah lungguh tidak pernah mengerjakan atau mengola tanah yang mereka miliki. Pengolahan-pengolahan tanah diserahkan dan diamanahkan kepada kepala desa. Sementara yang mengerjakan tanah ialah rakyat-rakyat biasa atau para petani yang biasa menggarap tanah kosong.

Selain dari keputusan-keputusan diatas, sang rakyat pun memiliki kewajiban untuk membayar pajak hidup mereka.

Tinggalkan komentar