Rumah Adat Kalimantan Lengkap dengan Penjelasan & Gambarnya

RUMAH ADAT KALIMANTAN – Hallo teman-teman semua ketemu lagi dengan baabun, baabun kali ini akan menulis artikel yang mengulas tetntang rumah adat kalimantan. Dari tanggal 25 oktober yang lampau, telah diresmikan sebuah provonsi baru di daerah kalimantan, yaitu Provinsi Kalimantan Utara.

Jadi, untuk saat ini Pulau Kalimantan ini terbagi menjadi 5 Provinsi, apa saja provinsi-provinsi yang ada di daerah Kalimantan ini? Yakni diantaranya ialah Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Selatan.

Berikut dibawah ini ialah ulasan tentang rumah adat kalimantan yang dilengkapi dengan gamdar dan penjelasan singkatnya. Selamat Membaca dan semoga artikel ini bisa memberikan manfaat yang baik untuk kita semua 🙂

1. Rumah Adat Kalimantan Tengah (Betang)

rumah adat kalimantan
lihat.co.id

Rumah Betang ialah salah satu rumah adat kalimantan yang bisa kita jumpa dan kita lihat di berbagai tempat di seluruh darah di Pulau Kalimantan. Terutama rumah adat ini bisa kita jumpai di wilayah kepala sungai yang biasanya menjadi pusat wadah atau tempat tinggal penduduk Suku Dayak.

Suku Dayak Kalimantan menjadi sungai ini sebagai sarana transportasi utama. Di sana mereka bisa mengerjakan atau melakakukan berbagai kegiatan kehidupan dan keseharian misalkan seperti pergi ke sawah yang biasanya letak lokasi ladang tersebut jauh dari tempat tinggal mereka.

Bagi mereka sungai ini bisa dijadikan sebagai tempat untuk berdagang dimana ketika pada zaman dahulu kala Suku Dayak melakukan perdagangan dengan memakai sistem barter satu sama lain yaitu menggunakan sistem tukan menukar dari hasil kebun, ladang, atau dari hasil ternak.

Rumah Betang ini memiliki bentuk wujud yang sangat beragam . Ada Rumah Betang yang memiliki bentuk yang panjang rumahnya hingga 150 meter dengan ukuran lebar bisa mencapai 30 meter. Bentuk bangunan Rumah Betang ini berwujud panggung dengan memiliki ketinggan kurang lebih sekitar 3-5 meter dari permukaan tanah.

Ketinggian dari Rumah Betang tersebut bertujuan untuk menghidari dari resiko-resiko yang memang resiko tersebut bisa membuat para penduduk kerugian, misalkan seperti resiko adanya banjir ketika memasuki musim penghujan yang kerap mengancam dari kepala sungai di Pulau Kalimantan.

Dalam beberapa departemen permukiman, terkadang mereka memiliki Rumah Betang tidak hanya satu atau lebih dari satu. Persoalan ini semuanya tergantung pada besarnya sebuah anggota kelompok pemukiman tersebut.

Di setiap keluarga menempati ruangan atau biliki yang dihalang atau disekat dari Tumah Betang yang besar itu. Selain dari itu, Suku Dayak juga mempunyai tempat tinggal sementara untuk kegiatan berladang, berkebun, berternak dan kegiatan-kegiatan lain sebagainya, karena jarak tempuh dari tempat tinggal mereka yang jauh dari ladang dan pemukiman membuat penduduk Suku Dayak ini untuk membuat tempat tinggal sementara.

Yang perlu kalian ketahui ialah bahwa Rumah Betang ini bukan hanya sekedar dari bangunan-bangunan tempat untuk dijadikan sebagai tempat tinggal oleh masyarakat Suku Dayak. Rumah Betang ini merpakan sebuah jantung dari struktur sosial kehidupan penduduk Suku Dayak.

Kehidupan atau budaya betang adalah cerminan atau contoh mengenai kebersamaan ketika sedang menjalani atau mengerjakan kegiatan didalam kehidupan sehari-hari penduduk Suku Dayak. Didalam kehidupannya setiap garis kehidupan perorangan telah diatur secara sistematis melalui kesepakatan yang telah disepakati bersama.

Persoalan lainnya yang bisa kita contoh dari kehidupan tersebut ialah adalah keamanan bersama. Baikt itu dari adanya gangguan-gangguan kejahatan atau dari berbagai makanan, duka dan suka ataupun aktivasi tenaga untuk mengerjakan ladang atau perekebunan.

Nilai utama yang paling diperlihatkan dari Tumah Betang adalah nilai kebersamaan antar orang-orang yang menetap atau tinggal di dalam rumah tersebut. Dan juga terlepas dari berbagai macam perbedaan apapun yang telah mereka miliki.

Dari persoalan tersebut kita bisa mengetahui bahwa Suku Dayak adalah suku yang begitu menghargai adanya sbuah perbedaan. Suku Dayak juga sangat menghergai sekali kepada perbedaan suku, agama, ras, dan latar belakang kemasyarakatan.

2. Rumah Adat Kalimantan Barat (Rumah Panjang)

rumah adat kalimantan
triptrus.com

Rumah adat Kalimantan atau Rumah Panjang ini mempunyai lebih dari jumlah 50 ruangan dengan didalamnya banyaknya sebuah dapur. Rumah Panjang juga ditempati oleh banyak anggota, dan keluarga inti juga termasuk keluarga yang menetap tinggal didalam Rumah Panjang tersebut.

Bahkan di Kapuas ada Rumah Panjang yang didalamnya terdiri dari 54 bilik yang pada setiap bilik itu terdapat anggota keluarga.

Biasanya rumah adat seperti ini dibentuk atau dibangun rumah dengan memiliki tinggi 5 sampai 8 meter dari atas permukaan tanah seperti halnya denga sebuah panggung yang besar. Menurut seseorang yang telah menyurvei rumah adat ini, ternyata Rumah Panjang ini ada yang memiliki ukuran panjangnya itu mencapai 186 meter dengan ukuran lebar 6 meter.

Apabila kita ingin masuk dan melihat isi dari Rumah Panjang itu, maka kita harus melewati anak tangga terlebih dahulu untuk bisa masuk dan melihat dari isi Rumah Panjang tersebut.

3. Rumah Adat Kalimantan Timur (Rumah Lamin)

rumah adat kalimantan
trendezia.com

Rumah Adat Kalimantan Timur atau Rumah Lamin ini ialah rumah adat Suku Dayak, dan terutama untuk Suku Dayak yang berada di daerah Kalimantan Timur. Rumah Lamin ini memiliki makn tersendiri, yakni makna dari kata “Rumah Lamin” ini ialah “rumah panjang kita semua”

Yang mana rumah lamin ini emang dipakai secara bersama-sama dan oleh berbagai macam dan jumlah keluarga yang tergabung didalam satu keluarga besar.

Apabila kita ingin mencari rumah adat ini, maka kita mencari rumah yang bentuk bangunannya itu seperti panggung dengan memilki tinggi kolong sampai 3 meter. Struktur denah rumah ini berbentuk segi empat yang bentuknya memanjang beratap pelana.

Tiang-tiang rumah ini terdiri dari dua bagian, yaitu untuk tiang yang bagian pertama ini kegunaannya untuk menyangga rumah dari bawah sampai atap atas. Sementara untuk bagian yang kedua ini kegunaannya untuk mendukung balok-balok pada lantai rumah panggung dikarenakan bentuk dari tiang yang kedua ini kecil.

Tiang-tiang tersebut keberadaannya tepat pada bagian kolong yang kadang kala diukir dengan bentuk-bentuk patung yang menurut kepercayaan mereka ini bertujuan untuk mengusir dari gangguan-gangguan roh jahat.

Rumah Lamin ini memiliki ukuran yang lebarnya bisa mencapai 25 meter dan untuk ukurang panjangnya rumah lamin ini bisa mencapai 200 meter. Karena, panjangnya rumah ini terdapat beberapa pintu yang langsung terhubung dengan tangga.

Oh iyah, pintu masuk rumah lamin ini ada pada bagian sisi yang bentuknya memanjang. Untuk ruangan dalam rumah lamin ini terbagi menjadi dua bagian yang masing-masingnya memanjang pada sisi bagian belakang dan pada sisi bagian depan.

Untuk sisi bagian depan ini ialah berupa ruangan yang terbuka dan juga dipakai untuk ruangan yang menerima tamu, upacara-upacara adat dan juga untuk tempat yang dijadikan perkumpulan sebuah keluarga. Untuk sisi bagian belakangnya terbagi menjadi kamar-kamar yang memiliki ukuran yang luas, dan pada setiap kamarnya itu dapat dipakai oleh 5 keluarga.

Biasanya rumah lamin ini diberi hiasan dengan berbagai macam-macam dekorasi dan ornamen yang mempunyai arti filosofi asli dari Suku Dayak. Ornamen yang dimiliki secara khusus untuk rumah para bangsawan adalah hiasan pada bagian atap yang memiliki dimensi sampai 4 meter dan juga berada di bubungan.

Warna-warna yang digunakan di rumah lamin ini mempunyai makna dan arti tersendiri. Warna kuning yaitu melambangkan sebuah kewibawaan, warna merah melambangkan sebuah nyali yang besar atau keberanian, warna biru melambangkan loyalitas, dan untuk warna yang putih ini melambangkan sebuah kebersihan jiwa.

Untuk bagian halaman depan Rumah Lamin ini ada tonggak-tonggak kayu yang diukir berupa patung. Tiang yang tertinggi dan tiang yang besar berada di tengah-tengah mana nama dari tiang-tiang tersebut ialah “Sambang Lawing”. Tiang ini juga dipakai untuk mengikat hewan-hewan korban yang dipakai ktika adanya upacara adat Suku Dayak.

Tinggalkan komentar